• image01

    Game

    Review

  • image02

    Game

    Making

  • image03

    Personal

    Opinion

  • image04

    Retro

    Gaming

  • image05

    Movie

    Talk

  • image06

    Wayang

    Stories

  • image07

    Pop

    Culture

3 Januari 2026

Review River City Girls : Pertarungan jalanan cewek gaul demi sang pacar



Sinopsis

               Di tengah membosankannya pelajaran di kelas, Misako dan Kyoko mendapatkan kabar lewat berita online kalau pacar mereka, Kunio dan Riki telah diculik oleh kedua misterius. Kedua cewek gaul ini segera meninggalkan kelas untuk mencari sang kekasih.

               Tindakan indispliner itu membuat murid satu sekolah berusaha mencegah mereka “kabur” dari sekolah. Kyoko dan Misako pun dengan kemampuan bertarung mereka berupaya mengatasi para murid itu.  Kyoko dan Misako tidak tahu bahwa  mencari keberadaan para kekasih tidak lah mudah, karena akan melibatkan orang-orang berbahaya di River City.

 

Penculikan Kunio dan Riki didalangi oleh??

Sebuah Spin-off Baku hantam klasik

 

               Jika ditanya apa game Beat’em up terbaik saat masih main game NES, saya dengan mantap akan menjawab River City Ransom. Kenapa?  Karena game baku hantam anak sekolah ini menawarkan sebuah kebebasan dalam mengekplorasi setiap bagian kota yang menjadi area bermain game ini alih-alih membaginya menjadi beberapa stage seperti game-game Beat’em pada jamannya.

               Selain itu, game besutan Technos itu dibuat seolah-olah tidak punya aturan main sehingga kita sebagai player bebas menghajar para NPC dengan berbagai macam  senjata yang tercecer tanpa batasan penggunaan.

               Sayangnya,  setelah sempat   main versi Game Boy Advance tahun 2004, saya tidak lagi mengikuti lagi perkembangan franchise ini dan saya membiarkannya menjadi kenangan

River City Ransom EX (GBA)


               Lama tak bersua, pada tahun 2019, rilis sebuah spin off dari River City Ransom yang kali ini dibesut oleh WayForward dan Arc System Works yaitu River City Girls.

               Sesuai judulnya, kali ini kita akan mengikuti petualangan para gadis tangguh, Kyoko dan Misako, yang merupakan pacar dari Main Character dari River City Ransom yaitu Kunio dan Riki. Tentu saja ini menarik perhatian saya yang sudah lama menanti inovasi apalagi yang diberikan franchise ini

 

Kyoko dan Misako

Plot cerita sederhana yang digendong

               Sesuai sinopsis di atas, plot cerita River City Girls ini bisa dikatakan sederhana, mudah diikuti, to the point dan tanpa tedeng aling-aling. Tema dibawakan memang terkesan berat yaitu penculikan tetapi karena disajikan dengan cara yang humor dan komedi, membuat tema itu menjadi terasa ringan.

               Jangan salah! Plot yang sederhana bukan berarti secara keseluruhan cerita River City Girls ditulis apa adanya dan hanya sebagai tempelan. Sang penulis cerita dengan jeniusnya memanfaatkan interaksi antar karakter menjadi daya tarik utama yang membuat pemain betah mengikuti cerita dari game Beat’em up ini.

               Yup! Bisa dibilang para karakter dengan sifat-sifatnya yang unik dan nyeleneh serta interaksi antar karakter yang dipenuhi humor-humor yang kadang absurd lah yang menggendong cerita game ini.

Design karakter seunik sifat-sifatnya


               Mulai dari para karakter utama seperti Misako yang impulsif dan Kyoko yang tengil hingga para boss yang tak kalah unik seperti cewek yang belum lulus SMA setelah 7 tahun, penjahit maut, vokalis band dan tentu saja musuh ikonik sejak jaman Technos yang jadi boss preman, Abobo.

               Gaya penceritaannya pun juga disajikan bervariatif mulai dari cutscene standart untuk kejadian yang terjadi saat ini, hingga gaya panel komik hitam putih untuk kisah-kisah dari masa lalu. Semua didukung dengan para voice actor yang berperan dengan cukup baik untuk menjiwai para karakter yang dibawakan

 

Kombinasi serangan  adalah koentji

               Sebagai game beat’em up, tentu saja River City Girls kudu menyajikan aksi pukul-pukulan yang mumpuni sebagai menu utama game play mereka dan mereka sukses mengeksekusinya.

               Karakter utama kita akan memiliki 3 jenis serangan, yaitu serangan cepat, serangan kuat dan serangan super kuat. Ketiga jenis serangan itu bisa kita gunakan sebagai serangan individu, akan tetapi serangan-serangan tersebut akan optimal jika kita kombinasikan.

               Sang Developer game ini benar-benar mengoptimalkan setiap tombol aksi yang bisa kita gunakan untuk menghasilkan berbagai macam jenis serangan kombinasi yang membuat para musuh kita cepat keok.

Kombinasi adalah koentji


               Perlu dicatat bahwa setiap kombinasi serangan yang menggunakan serangan super kuat akan memerlukan Power bar untuk dapat dieksekusi dengan sempurna. Untuk mengisi Power bar pun mudah. Kita hanya perlu sering-sering menggunakan serangan cepat kepada musuh saat bar ini mulai habis.

               Oh ya. Kita tidak akan langsung memperoleh serangan-serangan kombinasi ini saat memulai memainkan game ini. Kita perlu membeli dan mempelajari setiap kombinasi serangan ini di Dojo asalkan level dan uang kita memenuhi syarat yang diperlukan untuk menguasai kombinasi ini.

               Omong-omong, baik Misako mau pun  Kyoko memiliki jenis serangan kombinasi yang berbeda satu sama lain. Misako lebih berfokus pada power, sedangkan Kyoko lebih pada kelincahan. Jadi  kita tidak akan bosan dengan melihat kombinasi serangan yang itu-itu saja saat berganti karakter utama.

Dab pose combo!!! Kurang gaul apalagi


               Bosan dengan serangan tangan kosong? Tenang saja. Cukup banyak jenis senjata yang tercecer di area yang bisa kita gunakan untuk  menghajar para musuh yang berkeliaran, meski pun setiap senjata memiliki durabilitas yang membuatnya akan hancur setelah digunakan beberapa kali.

               Lebih liar lagi, kita bisa menggunakan musuh kroco yang terjatuh untuk jadi senjata yang bisa kita gebukan atau lempar ke musuh lain.   

               Lalu terkadang ada musuh yang memohon ampun kepada kita. Nah musuh ini bisa kita rekrut untuk memberikan serangan bantuan untuk menambah library kombinasi serangan kita meski pun lemah dan penggunaannya terbatas

 

Grinding yang kudu move on

               Meski pun game Beat’em up, River City Girls juga menyuntikkan fitur RPG berupa kemampuan untuk Level up yang membuat karakter kita semakin kuat dalam menghadapi musuh-musuh yang semakin lama akan semakin sulit terutama saat melawan para boss.

               Untuk meningkatkan level, karakter utama kita perlu melakukan grinding dengan cara rajin-rajin menghajar dan menghabisi para kroco yang bermunculan di setiap area yang kita lewati untuk mendapatkan experience sembari mencari uang   yang bisa kita gunakan untuk membeli item atau mempelajari serangan kombinasi.

Uang dan Exp untuk digrinding


               Uniknya, River City Girls seolah-olah memaksa kita untuk tidak melakukan grinding di area yang itu-itu saja dan perlu berpindah area untuk melakukan grinding dengan optimal. Semua itu karena hanya gelombang serangan pertama para musuh kroco yang menghasilkan uang dan experience yang layak. Gelombang serangan berikutnya akan sangat tidak worth untuk diperjuangkan.

 

Eksplorasi mencari boss yang mudah

               Seperti game-game pendahulunya, River City Girls akan meminta karakter kita untuk berkeliling dalam satu peta besar yang terbagi-bagi dalam beberapa area atau distrik berbeda seperti Sekolahan, Mall, slum area dan pantai.

               Berbeda dengan River City Ransom dimana kita bisa langsung mengeksplorasi sebagian besar peta  sejak awal, River City Girls justru meminta kita untuk  membuka setiap distrik secara perlahan-lahan dengan cara mencari dan mengalahkan boss setiap distrik untuk membuka akses ke distrik berikutnya.

               Untuk mencari boss pun cukup mudah. Kita tinggal melihat peta dan terpampang dengan jelas ada event apa di sana sehingga patut kita lihat

               Tentu saja ini membuat eksplorasi dalam  River City Girls terlihat lebih mudah dan terarah daripada River City Ransom yang seringkali membuat kita disorientasi karena kebingungan mencari dimana boss berikutnya.

               Lebih enak lagi,  pada setiap distrik di game ini disediakan halte bus yang membuat kita berpindah dari satu distrik ke distrik lain  secara instan. Tidak seperti di River City Ransom yang memaksa kita jalan kaki ke lokasi yang kita tuju.

               Bicara soal boss, kita akan bertemu dengan para boss yang tidak hanya menarik dari segi penceritaan tetapi juga Setiap boss juga memiliki tipe serangan dan skill yang unik-unik tergantung dari profesi mereka.

Boss pun memiliki variasi serangan berdasarkan batas HP bar


               kombinasi serangan setiap boss memiliki 3 variasi tergantung seberapa kritis kondisi boss tersebut dilihat dari HP bar mereka. Semakin kritis kondisi boss, semakin besar area serangan mereka dan semakin sakit pula serangan mereka. Di sini lah ketangkasan tangan kita diuji karena membuat kita harus berjibaku menghindari serangan mereka

 

              

Musik dan grafik yang relevan untuk anak jaman now

               Sebagai game spin off game jadul, bukan berarti jejeran musik dan grafik River City Girls ikut-ikutan jadul  dengan musik 8 bit dan grafik Pixel art ala jaman NES.

               Saat kita memulai game ini, kita akan disambut dengan opening movie gaya anime dengan musik Rock yang cepat dan bersemangat seolah-olah game ini sejak awal sudah mengajak kita untuk bersenang-senang dan menghajar musuh layaknya anak muda yang bersemangat tinggi.



               Desain karakter pun dirombak habis-habisan menjadi lebih terlihat  modern dan relevan untuk gamer jaman sekarang meski pun di satu sisi  membuat game ini tidak terasa seperti game keluaran Technos dahulu yang memiliki ciri khas dalam desain karakternya.

               Dalam gameplay, River City Girls juga menggunakan tipe grafis pixel art yang bisa diterima untuk gamer berbagai generasi dan setiap gerakan animasi karakter terlihat fluid, dinamis dan solid dengan respon tombol yang cukup baik.

               Saat kita menjelajahi setiap distrik, background musik yang dimainkan juga sudah modern dengan aroma techno dan Pop yang cukup enak untuk menemani petualangan Misako dan Kyoko.

 

Bonus penuh nostalgia yang kosong

               River City Girls memberikan kita kejutan yang membangkitkan rasa nostalgia saat kita sudah menamatkan game ini sekali dan memulai New Game +. Kejutan itu adalah kita akan bisa menggunakan Kunio dan Riki sebagai playable character . Bagi yang tidak tahu, Kunio dan Riki adalah karakter utama dalam game River City Ransom.

               Tentu saja ini bonus yang dinantikan oleh fans River City Ransom karena kapan lagi kita bisa menggunakan Kunio dan Riki dengan desain karakter yang baru dan kombinasi serangan yang berbeda dengan versi River City Ransom.

Kunio dan desain barunya


               Sayangnya, Kunio dan Riki “hanya” sekedar menjadi playable character kosong tanpa pengaruh dalam plot cerita secara signifikan karena POV di New Game + ini tetap saja dari sudut pandang Misako dan Kyoko, sehingga terasa janggal saat kita memakai Kunio atau Riki tapi saat Cutscene yang bercerita kembali ke Misako dan Kyoko.

              

Joypad issues

Masalah lain dalam River City Girls ada pada versi Epic Game yang saya gunakan untuk memainkan game ini yaitu masalah pada konfigurasi Joypad.

Jika saya memainkan game ini langsung dari Epic Game launcher, entah kenapa tombol-tombol dalam joypad yang saya gunakan mengeksekusi perintah yang salah dan tidak sesuai dengan UI yang tercantum.

Game ini sempat gratis di Epic game


Uniknya, untuk mengatasi masalah ini, saya harus membuka game ini menggunakan Steam launcher dengan feature add Non-Steam Game dan memaksa konfigurasi Joypad game ini mengikuti konfigurasi joypad steam.

Bayangkan kamu mendapatkan game gratis dari Epic Game tapi untuk bisa memainkannya dengan baik kamu kudu membuka Steam. Ironis, tapi bikin ngakak.

 

Conclusion

Sebagai game Spin off dari game legendaris, River City Girls adalah sebuah inovasi yang saya sukai. Meski pun memiliki plot cerita yang sederhana, tapi game ini berhasil menyajikan karakter-karakter dengan sifat-sifat yang unik dan interaksi yang menarik sehingga membuat cerita tidak membosankan apalagi penyajian cerita tidak hanya dengan cutscene standart tetapi juga panel-panel komik hitam putih.

Gerakan karakter game ini cukup luwes dan fluid dengan variasi kombinasi serangan yang berhasil memanfaatkan setiap tombol aksi yang diimplementkan kepadanya.  Para boss dalam game ini pun juga memiliki variasi gerakan berbeda bergantung pada besarnya HP yang dimiliki sehingga setiap fase melawan boss menjadi pengalaman yang berbeda dan tidak monoton.

Berbeda dengan River City Ransom yang bisa membuat player kebingungan saat mengeksplorasi area bermain karena sebagian besar area langsung terbuka, River City Girls lebih memilih untuk menutup area dan distrik  hingga player berhasil mengalahkan boss sebelum bisa mengeksplorasi distrik tersebut. Ini membuat River City Girls lebih mudah untuk dieksplorasi apalagi didukung dengan Map yang memperjelas posisi event dan Halte bus yang bisa memindahkan karater kita secara instan.

River City Girls juga menampilkan grafis pixel art yang bisa diterima gamer berbagai generasi  dan memiliki musik anak muda banget terutama bagian opening yang Rock abis yang penuh semangat dalam mengalahkan segala rintangan.

Dalam New Game +, kita diberi kesempatan untuk bernostalgia dengan menjadikan Kunio dan Riki sebagai playable character dengan kombinasi serangan yang benar-benar baru. Sayangnya, Kunio dan Riki ini tidak memiliki pengaruh signifikan dalam cerita yang tetap mengambil sudut pandang Misako dan Kyoko.

Kendala lain adalah  River City Girls versi epic game memiliki masalah dalam konfigurasi joypad yang ironisnya, bisa diatasi jika game ini kita mainkan di Steam

Sebagai penggemar River City Ransom, saya sangat menikmati game spin off ini. Selain mengambil sudut pandang cerita dari para pacar karakter utama River City Ransom, gameplay yang disajikan juga mantab ditambah dengan grafis dan musik yang menambah segar game ini. Dengan kendala teknis pada Joypad, saya tetap memberi game ini AWESOME


Macan Sekolahan


7 Desember 2025

Kenapa Rehat Main Game MOBA Mobile? Bukan Sekedar Jenuh


Lama tidak menulis blog karena fokus pada game development.  Akan tetapi karena saat ini saya sedang berada di titik yang tidak baik-baik saja dengan Game Development jadi ijinkan saya menuangkan energi dari rasa frustasi menjadi tulisan-tulisan yang pasti tidak akan jauh dari dunia Game dan pop culture

 


Kenapa single player gamer main MOBA Mobile?

Saya sebenarnya terhitung terlambat untuk mulai main MOBA Mobile. Saat puncak kepopuleran MOBA Mobile tahun 2017-2018 dimana ada persaingan antara Mobile Legend Bang Bang (MLBB) dan AOV, saya memang menginstall keduanya tapi jarang sekali main. Kenapa?

 Karena saya basisnya lebih menikmati game-game offline dan single player  sehingga jarang menyentuh game-game online bahkan sejak jaman warnet. Akibatnya, saya tidak tahu aturan-aturan dan taktik permainan dalam game online dan itu terbawa saat main MOBA Mobile

Saat itu, saya yang hanya tahu yang penting bunuh dan menang tentu saja jadi bulan-bulanan saat mabar karena cupu. Saya tidak tahu hero mana yang cocok dengan saya, atau apakah hero yang saya pakai sesuai untuk kebutuhan tim. Belum soal  penggunaan item dan skill. Pada akhirnya saya kembali ke game-game offline dan single player yang lebih enjoyable.

Pada 2020, saat wabah melanda dan lockdown dimana-mana, teman-teman SMP yang juga Work from Home mengajak saya bermain MLBB. Meski pun saya cupu, tapi mereka dengan sabar tetap ngajak  saya Mabar bahkan mau mengajari tips dan trick main MOBA Mobile.

Sejak saat itu saya mulai belajar soal MOBA mobile terutama Mobile Legend (MLBB). Saya mulai nonton kompetisi seperti MPL, mencari video tutorial  bahkan sering mencoba game-game MOBA baru seperti Pokemon, Wild Rift dan Honor of King

Singkat cerita, sekarang saya sudah tidak cupu-cupu amat main game MOBA Mobile. Saya juga tahu dimana potensi saya di game MOBA Mobile dan tahu taktik-taktik dasar. Setidaknya bisa lah memberi perlawanan

 Meskipun demikian, dalam 6 bulan terakhir ini saya mulai jarang bermain MOBA Mobile. Kenapa? Jawaban umum adalah karena kesibukan pribadi dan kejenuhan. Tapi mari kita detailkan

 

MOBA Mobile dasarnya gitu-gitu saja



Yup, kita semua tahu kalau game MOBA mobile itu dasarnya itu-itu doang, yaitu menjadi hero yang mempertahankan markas kita sendiri, sembari menyerang dan menghancurkan markas musuh. Meski pun tiap MOBA mobile memiliki variasi  design yang berbeda, dan tiap tahun ada perkembangan baru yang membuat pertandingan makin seru dengan design dan fitur baru tapi tidak bisa dipungkiri dasar main game MOBA Mobile yang begitu saja.

Mungkin bagi  gamer yang suka game kompetitif itu OK tapi bagaimana jika itu seperti saya, seorang single player offline gamer yang suka bermain berbagai jenis genre game seperti RPG, Life Sim, Action RPG, Metroidvania dan Sand box?  Seseorang yang energi dopaminnya didapat dari pengalaman gameplay yang berbeda-beda tentu memainkan game yang gitu-gitu saja tanpa perubahan signifikan pada gameplay tentu akan jatuh pada titik jenuh dan sesal.

Akan tetapi, faktor ini sebenarnya masih sepele. Soalnya saya biasanya hanya main MOBA Mobile 3 pertandingan per hari dan seharusnya masih cukup waktu untuk main game lain untuk melepas kejenuhan apalagi saya juga bekerja sebagai Game tester sehingga bermain game lain itu bisa dikatakan sebagai kuliah.

I lost my crews

Salah satu faktor saya main MOBA Mobile adalah ajakan dari teman-teman SMP saya di saat masa pandemi dan WFH. Sejak itu kami tiap malam selalu Mabar. Akan tetapi, tiap tahun frekuensi Mabar kami semakin berkurang.

Maklumlah,  mereka sudah berkeluarga dan tuntutan kehidupan in this economy tidak bisa dibantah semakin berat. Dengan sudah tidak adanya WFH dan orang-orang kembali ke kantor, tentu membuat waktu bermain mereka semakin sedikit.



Saya tidak bisa memastikan apakah mereka juga mulai jenuh dengan MOBA Mobile atau tidak, tapi mereka selama ini hanya bermain MLBB sebagai MOBA Mobile utama mereka, jadi  mereka jarang bermain lama MOBA lain seperti Wild Rift atau Honor of Kings

Teman-teman yang jarang mabar ini tentu menjadi pukulan telak karena selain kehilangan rasa senang bersama saat menang atau kalah, saya juga kehilangan tim yang paling paling paham kebiasaan saya dan paling  bisa diajak komunikasi saat bermain MOBA Mobile.

 

No Hero, No Party

Bagi saya seorang gamer yang suka bermain game-game single player, tentu biasa dengan game yang memiliki tujuan akhir. Baik cerita selesai atau telah sampai di target tertentu jika game tersebut tidak bisa tamat misal di game Farming seperti Stardew Valley,  biasanya setelah menikah dan sukses sudah menjadi target utama saya.

Saat target itu telah terpenuhi, maka kemungkinan besar saya akan meninggalkan game itu, atau jarang memainkannya kembali.

Sebagai game online, tentu MOBA Mobile tidak memiliki tujuan akhir kecuali menjadi peringkat tertinggi. Yang itu pun setiap ganti season selalu di-reset ulang sehingga player harus berjuang lagi untuk meraih rank tertinggi.



Karena itu saya menentukan sendiri target apa yang saya capai dengan bermain game MOBA online. Sesuatu target yang mungkin dilakukan tanpa  perlu keluar uang asli untuk melakukannya dan itu adalah mendapatkan hero secara permanen.

 

Di game seperti MLBB, untuk membeli dan mendapatkan seorang hero secara permanen memang mungkin dilakukan tanpa harus membeli diamond, akan tetapi itu memerlukan usaha yaitu mendapatkan koin emas dengan cara terus memainkan pertandingan dan mengikuti event2.

Itu lah yang membuat saya rela bermain 3 pertandingan per hari. Hanya demi melaakukan grinding koin emas untuk mendapatkan hero baru. Apalagi jika hero itu ternyata cocok dengan role dan gaya main saya.

Nah masalahnya sekarang adalah BAGAIMANA JIKA SAYA SUDAH MEMILIKI SEMUA HERO?  Bukankah itu berarti target  saya sudah terpenuhi? Lalu buat apa ngoyo grinding koin emas lagi kan?  Jadi saya memutuskan untuk menunggu keluarnya Hero baru dulu, lagi mulai melakukan grinding koin emas lagi.

 

Jika  bisa disimpulkan, maka fase rehat dari MOBA mobile ini sebenarnya dipicu oleh jarangnya Mabar bersama teman-teman dan karena target utama yaitu mendapatkan hero secara permanen tanpa keluar uang asli sementara sudah terpenuhi hingga game MOBA tersebut merilis hero baru. Apalagi game MOBA mobile sebenarnya tidak memiliki gameplay yang bervariatif sehingga membuat saya berada di titik jenuh untuk sementara ini.

 

25 Juli 2024

Kebangkitan kembali karakter antagonis ikonik: Langkah cerdas!

 Disclaimer! Pertama, di sini saya akan beropini dari sudut pandang retro gamer dan gamer generalist. Saya bukan seorang pemain aktif  atau pun Pro player game fighting seperti Tekken dan Street Fighter. Apa yang saya tulis ini tidak mewakili pemikiran organisasi apa pun. Kedua, saya akan lebih banyak membahas seri Tekken daripada Street Fighter dikarenakan saya lebih mengikuti cerita Tekken daripada Street Fighter

               Terkejut! Mungkin itu reaksi pemain game Tekken saat ada pengumuman munculnya kembali Heihachi Mishima sebagai karakter DLC Tekken 8 untuk bulan Agustus nanti lewat trailer yang tersebar di platfform Youtube. Beberapa gamer bersorak gembira karena kembalinya karakter “pak tua” yang telah ada sejak Tekken rilis di tahun 1994.

    Beberapa gamer lainnya justru bingung dan mungkin geram menanyakan kenapa Heihachi yang sudah “mati” di Tekken 7 kembali dihidupkan. Apalagi Harada, sebagai otak dibalik seri Tekken pernah berkata di sebuah wawancara bahwa Heihachi Mishima is completely dead.

Menolak Pensiun


               Sebulan sebelum pengumuman kembalinya Heihachi oleh Bandai Namco, Capcom sudah lebih dulu mengumumkan kembali karakter antagonis ikonis dalam series Street Fighter, yaitu M. Bison sebagai karakter DLC Street Fighter VI. Tentu dengan penampilan  lebih misterius sekaligus sangar. 

               Kembalinya para karakter antagonis ikonik ini seolah-olah menandakan bahwa sang Developer baik Bandai Namco mupun Capcom tidak rela mereka pensiun dari dunia game fighting dan sekedar jadi kenangan, meski pun di satu sisi mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa terus mengandalkan Heihachi mau pun M. Bison sebagai antagonis dalam cerita game mereka.

Tampilan baru M. Bison


               Dalam Tekken, misalnya. Saya yang hanya main Tekken 3, Tekken 5, Tekken 6 dan Tekken 7 pun sampai jengah mau sampai kapan konflik keluarga Mishima akan menjadi cerita utama, dimana sepanjang seri  ada 3 karakter yang selalu jadi biang rusuh yaitu Heihachi Mishima, Kazuya Mishima, dan Jin Kazama.

               Dalam Tekken 7, Heihachi akhirnya “dimatikan” setelah beberapa kali selamat dari kematian di seri terdahulu misal saat dia diledakan di opening Tekken 5. Ketidakhadiran Heihachi dalam roster Tekken 8, dan juga wawancara Harada seolah-olah mengkonfirmasi bahwa Heihachi sudah dipensiunkan. Sudah saatnya cerita Tekken move on sedikit dengan munculnya Reina, karakter baru yang menggantikan peran Heihachi sebagai tukang rusuh baru dalam konflik keluarga Mishima

               Sekarang, Heihachi telah dikonfirmasi akan kembali Tekken meski pun hanya sebagai karakter DLC. Tentu saja banyak orang-orang yang kembali mengeluhkan betapa hebatnya daya tahan hidup di pak tua ini sehingga konflik keluarga Mishima pasti akan kembali berputar untuk seri Tekken berikutnya.

              

Posisi cerita dalam Game Fighting

               Saya selalu berpendapat  bahwa cerita di dalam game itu penting, akan tetapi, di satu sisi saya juga semakin sadar bahwa cerita tidak harus menjadi fokus utama dalam sebuah game.

Dalam Game Fighting seperti Tekken dan Street Fighter, saya sebagai gamer tentu akan lebih antusias dalam mengantisipasi mekanik Gameplay dan karakter dari game tersebut daripada menanti kelanjutan cerita dari game tersebut.

Dalam Gameplay game Fighting, evolusi dalam mekanik pertarungan dalam game adalah faktor paling penting. Dalam setiap seri Tekken, kita pasti merasakan perbedaan mekanik yang cukup signifikan saat dimainkan. Mulai dari gerakan animasi yang semakin luwes, atau dengan menyuntikan fitur jurus pamungkas yang mudah dieksekusi tapi membutuhkan timing yang tepat. Gamer tentu akan antusias menantikan evolusi-evolusi ini di atas apa pun.

Evolusi Mekanik dalam Game Fighting


Selain evolusi dalam Gameplay, kita sebagai gamer tentu penasaran dengan siapa karakter yang akan muncul dalam seri terbaru. Jika itu karakter lama yang kembali muncul, kita akan penasaran mulai dari bagaimana design mereka dan bagaimana mekanik bertarung mereka. Apakah ada perubahan mencolok atau tidak.

Sebaliknya jika itu karakter baru, kita akan penasaran ingin mencoba bagaimana mekanik bertarungnya. Apakah dia tipe petarung aliran tertentu yang fokus pada kekuatan?  Atau fokus pada teknik dan kecepatan? Bagaimana dengan jurus-jurusnya? Apakah dia mewakili aliran bela diri tertentu?

Dari penjelasan di atas, saya seolah akan menggiring anda bahwa cerita dalam game fighting tidak penting? Oh tidak seperti itu, Ferguso.

 Tidak menjadi fokus bukan berarti tidak penting karena nyatanya keberadaan dan peran setiap karakter  game fighting perlu dibangun dari fondasi cerita yang mantab karena akan menjadi salah satu daya tarik para gamer untuk menggunakan karakter tersebut dalam pertarungan.

Dalam Tekken misalnya, secara garis besar ceritanya memang konflik keluarga Mishima dan jika orang awam kita beritahu soal ini pasti beberapa berpikir bahwa  ceritanya tidak jauh beda dari sinetron negeri kepulauan Khatulistiwa yang tidak jauh-jauh dari harta, tahta, dan wanita.

Nyatanya, fondasi cerita Tekken tidak dibangun sesederhana itu. Setiap karakter dalam game Tekken diceritakan memiliki motivasi dan latar belakang yang bervariasi kenapa mereka terlibat dalam konflik keluarga itu.

Konflik keluarga dengan alur yang tidak sinetronable


Mulai dari yang memiliki peran penting dalam cerita utama, dalam hal ini tentu saja Jin, Kazuya, dan Heihachi (serta Reina). Jangan lupakan pula  karakter pendukung terlibat dalam konflik tersebut secara langsung seperti Xiaoyu, Nina, Lars, dan Zafina. Bahkan ada pula karakter yang ga penting-penting amat dalam cerita utama macam Law, dan Paul.

Lore dan motivasi setiap karakter ini membuat saya selalu ingin mencoba menamatkan story game ini dengan karakter yang berbeda saya memiliki sudut pandang baru terhadap seri Tekken tersebut setiap saya menamatkan dengan karakter tersebut.

 

Langkah Cerdas!

               Melihat dari pendapat saya di atas, tanpa maksud mengabaikan evolusi mekanik dalam gameplay, saya ingin mengatakan bahwa keberadaan seorang karakter  yang ikonik dalam game Fighting itu penting karena banyak fans ingin menggunakan  karakter ikonik tersebut dalam mekanik gameplay yang baru.

               Masalahnya adalah bagaimana peran karakter tersebut dalam cerita. Masalah ini tentu mudah diatasi jika karakter ikonik itu memang tidak memiliki peran penting dalam cerita seperti Law dan Paul yang selalu muncul dalam seri Tekken meski pun cerita mereka tidak penting dan cenderung konyol.

               Ini karena sebagai karakter lama dan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan  dari nama Tekken itu sendiri, keberadaan Paul dan Law lebih penting di mata fans. Tak peduli dengan bodohnya cerita mereka.

               Tentu saja Tim Developer Tekken 8 tidak bisa membuang karakter seikonik Heihachi dari roster Tekken 8  itu begitu saja. Akan tetapi di sisi lain, peran Heihachi di cerita  Tekken 8 mau dijadikan apa setelah peristiwa di Ending Tekken 7? Ga mungkin kan mendapatkan Treatment yang sama seperti Paul dan Law dengan memberikan cerita yang ga jelas dan konyol. Heihachi itu Mishima, bro

               Tim Developer Tekken 8 mengambil langkah cerdas. Mereka tidak buru-buru melepaskan Heihachi Mishima sejak awal perilisan Tekken 8. Sebaliknya, mereka lebih dahulu memperkenalkan karakter baru bernama Reina yang terlibat pada konflik keluarga Mishima.

Reina (Mishima?)


               Keberadaan Reina menjadi penyegaran terhadap Tekken 8. Mereka seolah-olah menjadikan Reina sebagai pengganti Heihachi, apalagi diceritakan Reina memiliki gaya bertarung Mishima, sama seperti Heihachi. Tentu saja saya tidak memungkiri bahwa saya juga tertarik pada model karakter Reina

               Karena itu, Tim Tekken membuat cerita utama dalam Tekken 8 juga berfokus untuk memperkenalkan karakter Reina ini dan apa motivasinya terlibat dalam konflik keluarga Mishima. Mereka ingin fans memiliki ketertarikan dan keterikatan terhadap karakter “tante”  ini dulu, setidaknya dari segi cerita.

Yes... dia seorang Tante


               Setelah lore utama Reina terungkap, ini menjadi saat yang tepat untuk merilis karakter DLC untuk menjadi tambahan roster dalam  Tekken 8, dan tentu saja ini menjadi suatu alasan yang tepat untuk “menghidupkan kembali” Heihachi Mishima meski pun peran apa yang akan diberikan  dalam cerita utama Tekken kepadanya belum kita ketahui

               DLC Heihachi Mishima ini juga bagus buat bisnis Bandai Namco sendiri. Pertama, membawa kembali fans-fans Tekken terutama fans Heihachi Mishima untuk memainkan Tekken 8, entah itu pemain yang baru membeli Tekken 8, atau pemain yang kembali lagi memainkan game ini.

               Kedua, kehadiran Heihachi Mishima ini tentu menjadi kado istimewa dari Bandai namco yang diberikan kepada fans  untuk perayaan 30 tahun Tekken. Bayangkan jika sebelumnya fans kecewa karena diduga perayaan 30 tahun Tekken akan tanpa Heihachi yang sudah menjadi ikon game ini sejak 1994.

Saat pengumuman ini terdengar apalagi membawa embel-embel 30 tahun Tekken, fans tentu akan bersorak gembira dan mungkin tidak akan berpikir panjang untuk mendapatkan petarung tua ini.

Setali tiga uang dengan rilisnya M.Bison di Street Fighter 6. Ini tentu strategi Capcom untuk menarik kembali player-player Street Fighter 6 atau Street Fighter sebelumnya yang rindu akan kehadiran pemimpin Shadaloo ini.

 

DLC Tekken 8

Pada akhirnya kembalinya karakter ikonik sebagai DLC ini tidak lebih dari strategi bisnis sang Developer untuk menjawab kebutuhan gamer terhadap kehadiran karakter tersebut dalam mekanik gameplay seri terbaru sekaligus suatu cara untuk menyegarkan cerita utama dengan mengenalkan alur cerita dan karakter baru terlebih dahulu.

Dengan cara ini Developer bisa menyusupkan karakter ikonik ini untuk bisa digunakan sebagai playable karakter dalam mekanik gameplay yang baru, tetapi mempunyai cerita yang singkat yang mungkin tidak akan mempengaruhi cerita utama… setidaknya dalam seri ini



9 Juli 2024

Loyalitas Mobile Legends vs Royalitas Honor of Kings: Perang dimulai

 

Setelah 2 tahun lebih mempersiapkan “amunisi”, tanggal 20 Juni 2024 kemarin, Tencent akhirnya meluncurkan Honor of Kings ke pasar global lewat Playstore. Ini menandai juga era baru Perang MOBA Mobile terutama di Pasar Indonesia yang selama 6 tahun ini  dikuasai oleh Mobile Legend.



               Mobile Legends Bang Bang (MLBB) memang terbukti tahan banting. Di Perang MOBA Mobile pertama (2017-2019), mereka harus melawan Arena of Valor (AOV) keluaran Garena yang merupakan versi global dari Honor of Kings (HOK).

               Sayangnya, AOV semakin mengalami turun peminat. Menurut pengalaman saya, AOV saat itu sebenarnya memiliki grafis yang lebih bagus dari MLBB, tetapi di satu sisi ini juga menjadi kendala karena pada saat itu mayoritas player Indonesia memiliki HP yang “mepet kiri” untuk memainkan AOV.

AOV, Mantan Pesaing berat MLBB


               Keadaan ini berhasil dimanfaatkan oleh Moonton yang mengeluarkan MLBB dengan grafis yang mensupport HP-HP kentang pada saat itu, sehingga memungkinkan berbagai kalangan memainkan MLBB tanpa halangan spec yang berarti.

               Selain itu, masih menurut pengalaman saya, Server AOV sering mengalami kendala connection error sehingga saya sering susah masuk ke dalam Main menu AOV.

               Kemunduran AOV juga menandai awal kejayaan MLBB di Pasar MOBA Mobile Indonesia. Berkat dukungannya kepada para influencer, content creator dan terbentuknya tim-tim E-sport serta mulainya kompetisi E-sport seperti  MPL, MSC dan M series, MLBB menancapkan pengaruhnya ke para gamer MOBA mobile

Pada saat ini komunitas-komunitas MLBB tumbuh subur di berbagai kalangan. Tidak mengenal tua, muda, kaya miskin. Di mana pun, dan kapan pun kita melihat orang memainkan MLBB.

Saya pun juga sampai salah prediksi. Di awal 2019, game-game Battle Royale macam PUBG dan Free Fire mulai ngetrend, dan saya mengira bahwa era MOBA Mobile akan tamat, dan akan ditinggalkan pemainnya.

Nyatanya, meski pun sudah tidak seramai 5 tahun lalu dan ada trend menurunnya minat player, komunitas pemain MLBB masih kuat hingga tahun 2024 ini.

 

Pesaing “mudah” MLBB pasca AOV

               AOV sebagai mantan pesaing MLBB, saat ini masih “bernafas” di ranah MOBA Mobile meski pun sudah disebut MOBA sepi. AOV pun masih melakukan update-update konten termasuk hero baru dan skin.

               Beberapa MOBA bermunculan untuk menggantikan AOV melawan dominasi MLBB di pasar MOBA Mobile Indonesia. Mereka harusnya akan menjadi pesaing sulit karena dukungan di belakang layar mereka tidak main-main.

               Misalnya, League of Legend:  Wild Rift dari Riot Game. WR ini digadang-gadang menjadi League of Legend versi Mobile.  Nama besar League of Legend sebagai penguasa MOBA PC kudunya terdengar angker di telinga para user MOBA.

               Sayangnya, WR ini masih kesulitan menandingi MLBB di pasar Indonesia. Penyebab utamanya adalah Gameplay berbeda dari MLBB yang membuat player baru kudu beradaptasi dengan gaya bermain yang baru.

Gameplay WR sebenarnya menantang cuma butuh waktu untuk adaptasi


               Pokemon Unite adalah nama MOBA yang membawa nama besar Pokemon dan tentu saja Nintendo. Nyatanya MOBA pertarungan basket antar pokemon yang “adem” ini juga hanya menjadi trend sesaat sebelum perlahan tenggelam jarang terdengar.

               Bagaimana dengan Lokapala, game MOBA asli Indonesia? Dia masih belum bisa menjadi tuan di negerinya sendiri. Meski pun begitu usahanya, bertahan di ranah MOBA Mobile dan perbaruan terus-menerus untuk memperbaiki sisi teknis dan artistik patut saya acungi jempol.

Harus tetap didukung. Indopride


               Paling tragis adalah Autochess MOBA. Diklaim sebagai DOTA 2 versi MOBA, nyatanya mereka hanya hidup kurang dari 2 bulan di pasaran.

               Para pesaing MLBB itu (dengan mengecualikan Autochess MOBA) sebenarnya berhasil membentuk komunitas gamer yang sayangnya tidak cukup besar melawan komunitas MLBB yang terlanjur menjadi besar beberapa tahun ini

 

Bansos Honor of Kings

               Kenyamanan MLBB menguasai pasar MOBA Mobile Indonesia mulai terusik saat sekitar 2022 beredar kabar bahwa Honor of Kings yang menguasai pasar MOBA mobile Tiongkok berencana ekspansi ke pasar global.

MLBB Killer? maybe


               Berbeda dengan saat menghadapi pesaing-pesaing lainnya, Moonton tampak tidak santai menanggapi rencana rilisnya HOK ini di pasar global.

               Wajar saja karena kali ini Moonton harus bersaing melawan “raksasa” bernama Tencent yang barang tentu lebih dari siap “membakar uang” untuk membesarkan Honor of Kings di pasar global.

               Selain itu, kali ini MLBB tidak bisa memanfaatkan keunggulan dari adaptasi Gameplay seperti yang terjadi pada Wild Rift. Hal ini karena secara Gameplay, HOK hampir mirip dengan MLBB sehingga player MLBB tidak akan terlalu kesulitan beradaptasi saat bermain HOK.

               Tencent tidak main-main dalam mempersiapkan HOK ke pasar global. Butuh persiapan dan beta testing  hingga 2 tahun bagi HOK sebelum akhirnya 20 Juni 2024 lalu HOK rilis di pasar global.

               Tidak serta merta rilis, HOK “menembakan” berbagai amunisinya untuk menarik perhatian player MOBA Mobile di Indonesia. Mulai dari berbagai iklan baik yang sangat kreatif, hingga yang jelas-jelas menjatuhkan MLBB.

               Selain itu, para Gaming Content Creator, dan Gaming Influencer mulai ikut-ikutan memainkan HOK. Tentu saja ada campur tangan Tencent di balik fenomena ini

               Amunisi utama dari HOK tidak lain dan tidak bukan adalah berbagai jenis Bansos kepada player baru berupa hero, skin, dan pernak-pernik yang gratis, atau setidaknya murah meriah.

Free 1 Hero per hari


               Cara mendapatkan Bansos ini pun tidak merepotkan. Kita cukup bermain gameplay baik Rank atau Normal maksimal 3 pertandingan per hari lalu mengklaim hadiah-hadiah Bansos yang kita peroleh dari hasil pertandingan-pertandingan itu.

               Bansos ini juga menunjukan bagaimana keroyalan Tencent dalam memanjakan pemain baru. Misalkan Hero yang diberikan secara gratis sejak awal adalah hero-hero yang mudah digunakan tetapi mematikan dalam gameplay.

               Selain itu, seiring kita bermain, kita akan mendapatkan lebih banyak hero-hero dengan berbagai jenis posisi dan mekanik secara gratis. Ini seolah-olah memberikan kesempatan bagi player untuk menemukan hero yang cocok dengan gaya gameplay masing-masing.

               Hingga hari ini, belum genap HOK rilis secara global, saya telah mendapatkan 46 hero dan hanya 3 diantaranya yang saya dapatkan dari menggunakan Starstone yaitu, mata uang In-game HOK. 43 sisanya saya dapatkan secara gratis berkat bansos dari HOK

               Di MLBB, untuk mendapatkan jumlah hero yang sama, saya membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun dengan rajin mencari battle point atau Fragment hero.

               Bagaimana dengan Bansos skin? Jika anda mengira Tencent akan memberikan skin kaleng-kaleng atau seadanya, maka anda salah besar karena skin yang diberikan secara gratis  bahkan  memiliki kualitas epic hingga skin kolaborasi yang tidak murah jika dibeli dengan uang asli.



               Bansos pernak-pernik berupa item-item juga tidak bisa diremehkan karena akan mempermudah player mendapatkan Starstone, dan fragment yang bisa digunakan untuk mendapatkan Hero mau pun skin.

               Selain itu, ada juga item-item yang mempermudah player dalam pertandingan Rank, misal membuat player  mudah naik Rank, atau, sebaliknya bertahan di Rank tersebut meski pun player tersebut kalah dalam pertandingan.

               Untuk dari segi pengalaman gameplay dan teknis Honor of Kings bisa dilihat di artikel terdahulu.

 

Antisipasi benar dengan eksekusi yang seadanya

               Tentu saja serangan masif HOK ini juga berusaha diantisipasi oleh Moonton dengan tindakan yang membuat heran para player karena Moonton yang biasanya kikir mendadak jadi berbaik hati memberikan event-event yang memungkinkan player mendapatkan hero dan skin mahal dengan gacha yang dipermudah, bahkan gratis asal rajin mengikuti event tersebut.

Give away Skin Epic


               Meski pun tidak seroyal Tencent, tetapi player-player pemburu skin MLBB senang-senang aja. Malah berharap HOK makin royal agar MLBB makin obral skin.

               Saya sendiri, sebagai player gratisan kurang antusias dalam Event-event MLBB ini karena sejak awal bermain MOBA Mobile, saya memang lebih berfokus pada memburu Hero daripada skin. Berburu skin gratisan hanya saya anggap sebagai bonus.

               Sedangkan saat ini saya sudah mengumpulkan 110 lebih hero MLBB dan hanya tersisa kurang lebih 10 hero, dan mereka tidak diikutkan dalam event-event tersebut. Saya pun fine-fine saja karena hero-hero yang tersisa itu memang bukan hero prioritas alias hanya pelengkap koleksi.

Bonus 112 Skin gratisan 


               Tindakan Moonton dengan berusaha membuat event skin murah dan mudah digacha ini sebenarnya tepat yaitu dengan berusaha mempertahankan minat komunitasnya. Hanya saja kurang berani jor-joran saja sehingga ada player yang kurang bisa menikmati event ini, misal player gratisan seperti saya.

               Seharusnya Moonton lebih berani menjual Skin atau hero dengan lebih murah, apalagi melihat aksi bansos HOK secara masif dan royal cukup berhasil menarik player MLBB menuju HOK. Semoga saja pada event Yellow Diamond berikutnya, Moonton mempertimbangkan untuk menurunkan harga Skin mau pun Hero.

 


Loyalitas vs Royalitas

               Lalu apakah dengan Bansos melimpah yang diberikan HOK kepada player akan membuat player MLBB beralih ke HOK?

               Belum tentu.

               Memang trend saat ini sedang berpihak pada Honor of Kings. Terbukti dengan HOK menjadi game gratis terpopuler di Playstore sedangkan MLBB harus puas berada di peringkat 5. Tentu saja pengaruh Bansos yang melimpah, dan promosi besar-besaran telah menarik rasa penasaran para player MOBA Mobile.

HOK sementara memimpin


               Masalahnya, ini masih terlalu dini menilai HOK akan mengaduk-ngaduk kedudukan MLBB. Bisa saja ini hanya trend sesaat dimana player MOBA Mobile hanya sekedar penasaran atau hanya ingin mengumpulkan Bansos HOK sebelum kembali ke MLBB

               Ingat. Ini bukan kali pertama MLBB menghadapi pesaing. Dalam perjalanan 7 tahun, MLBB telah menghadapi berbagai macam MOBA pesaing  kuat macam AOV, Wild Rift, dan Pokemon Unite.

               Terbukti bahwa Moonton tetap berhasil mempertahankan komunitas MLBB untuk tetap kuat menghadapi pesaingnya itu. Malah para pesaingnya itu hanya menjadi trend sesaat sebelum akhirnya sekarang bisa dikatakan keok sebelum menjadi lebih besar

               Nah sekarang bagaimana dari segi player sendiri? Moonton harus bersyukur karena komunitas MLBB tetap kuat karena banyak player yang masih loyal terhadap MLBB. Kenapa?

               Pertama, para player itu sudah membentuk komunitas dalam MLBB. Mereka sudah memiliki teman Mabar dalam MLBB yang mungkin sudah saling sinkron sebagai tim. Jika mereka berpindah ke MOBA lain, mereka harus membentuk komunitas dan tim baru yang belum tentu sinkron. Maka dari itu mereka tetap stay di MLBB asal bisa bermain dengan temannya

               Kedua, para player terutama player lama apakah akan ikhlas melepaskan prestasi, pencapaian dan item-item yang telah mereka peroleh atau beli? Apakah mereka rela meninggalkan Rank Mythical mereka untuk memulai perjalanan baru di game baru? Atau apakah mereka akan merelakan skin senilai jutaan rupiah yang telah mereka peroleh selama ini demi Bansos dari game lain? Tentu ini berat bagi mereka yang telah mati-matian di MLBB untuk pindah ke lain hati.

Apa rela beli semahal ini terus ditinggal?


               Bahkan player gratisan seperti saya pun sayang harus meninggalkan MLBB setelah lebih dari 4 tahun grinding Hero di game ini. Apalagi di game MLBB saya bisa silahturahmi bersama teman-teman masa sekolah saya. Selama ini mereka juga enggan bermain lama-lama di HOK karena menganggap HOK hanya trend sementara.

               Nah tugas berat Moonton adalah bagaimana menjaga komunitas MLBB tetap kuat karena kali ini Moonton dan MLBB bersaing dengan raksasa benaran, yaitu Tencent yang memiliki kekuatan finansial jauh melebihi Moonton. Goyangan terhadap komunitas MLBB akan sangat kencang kali ini.

               Moonton harus mengambil langkah strategis yang tepat karena perang ini akan panjang. Blunder sedikit saja dalam mengambil kebijakan dan strategi, Moonton bisa saja kehilangan loyalitas dari para playernya.

               Nah sekarang, sebagai pengamat saya akan melihat seberapa menarik jalannya Perang MOBA mobile ini

Mengenai Saya

Foto saya
Saya seorang pekerja swasta di Bidang Teknologi Informasi terutama Game Industry. Saya menggunakan Blog sebagai penyaluran minat saya. Sekedar informasi, Foto Profil itu foto saat SMA medio 2005 an

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.